Title : Over
Cast : 2min and Other
Pairing : Angst
Author : RaeJin
Suka gk suka bilang suka #PLAK -.-
Happy Read :O
=============
Taemin. Sesosok namja cantik itu tengah terbaring di atas kasur berukuran big size miliknya, yang di hiasi dengan seprai kuning, warna favoritnya.
Namja itu tengah resah. Sangat resah. Ia membalikan badan mungilnya ke kiri kemudian kekanan dan terus berlanjut, sampai badannya lelah dan terlentang. Pandangannya menyapu langit-langit kamarnya.
“Huf..” namja cantik itu kembali membuang nafas berat, entah untuk ke berapa kalinya. Namja cantik itu menengok ke arah jendela kamar yang sengaja tidak ia tutup. Melihat butir demi butir salju turun di kota Seol sungguh indah. Sangat indah. Salju-salju itu menciptakan embun di jendela kamar Taemin.
Taemin turun dari ranjangnya berjalan ke arah jendela itu. Diam menatap jalan-jalan Seoul yang sudah hampir di penuhi salju. Langit malam, namun tidak terlalu gelap di sekitar sini. Yah apartemen yang sedang Taemin tempati berada di kota metropolitan.
Taemin menyentuh kaca jendela yang dingin itu, tak di hiaraukanya dingin. Jari-jari mungil milik Taemin, membersihkan sebagian embun itu, sehingga membentuk sebuah kata. Kata yang sangat sensitive baginya. Kata yang sungguh manis dan romantis. Hanya saja hanya ia dan kesunyian malam yang dapat melihatnya.
Lee Taemin
===================
Sinar matahari menyilaukan pandangan Taemin. Ia mulai terganggu dari tidurnya. Dengan susah payah Taemin mulai menetralkan kembali nyawanya.
DEG
Ini sudah pagi, kantuknya segera hilang. Ia tertidur di sofa dekat jendela. Mengingat nama Choi Minho. Tunanganya itu. Tunangan yang amat ia cintai bahkan ia terlalu mencintai namja tampan itu.
Taemin berlari kearah ponselnya berada. Memandang benda berwarna hitam itu dengan penuh harap. Berharap ada satu panggilan atau sms dari namja tampannya itu.
Harapan itu sirna saat ia melihat ponselnya, bahkan tak ada satu pun sms atau telpon dari Minho. Sakit ini sungguh sakit. Mengingat ia tak bisa tidur semalaman hanya karena namja tampan itu belum menelponya. Bahkan namja tampan itu tak bisa di hubungi hingga larut malam.
Taemin menempelkan handphonenya saat sebelumnya menekan tombol satu. Dan itu panggilan cepat dengan nama ‘Nae Keroro’ di sana dan satu photo Minho tengah tersenyum girang.
“Hah” Taemin sedikit senang saat ia mendengar nada tuut…tuut…tuut di handphone nya. Menandakan ponsel Minho hidup. Tapi sedetik kemudian telephone terputus. Taemin mencoba sekali lagi tapi… no Minho sudah tidak aktif.
Taemin terjatuh. Di pinggiran ranjangnya.
Apa salah jika kita terlalu mencintai seseorang? Selalu berharap ia akan di sampingmu selamanya? Selalu marah saat ia tak menghubungimu? Selalu menuduh macam-macam saat ia tak menganggkat telpon mu? Selalu ingin di beri perhatian lebih?
Apa salah jika Taemin sangaaaat mencintai tunanganya itu Minho. Dan apa salah jika Taemin ingin Minho selalu di sampingnya. Dan apa salah jika Taemin sedikit over pada Minho?
Apa salah?
===========
.:: Minho POV ::.
Malam ini salju turun. Sungguh indah. Tapi salju ini tak bisa membandingi keindahan namja cantiku. Taemin.
Hei kalian tau? Taemin. Yah Taemin adalah namjachingu ku yang ku sayangi. Tapi, pernahkah kau merasa bosan dan sebal saat kau selalu di kekang dan di tuduh itu ini padahal kau tak melakukanya?
Dan itulah yang terjadi padaku. Hei Lee Taemin kau tau, aku ini TUNANGANMU. Tapi mengapa kau selalu takut aku akan pergi. Hei kau tau Taemin sifatmu yang seperti itu malah membuatku benar-benar ingin pergi darimu.
Aku menatap kesal ke arah ponselku yang berdering untuk sekian kalinya. Taemin. Yah hanya ada nama terpangpang itu di ponselku. Taemin terus menghubungiku mengirimkan pesan-pesan yang membuatku muak. Hei Taemin aku tau kau mencintaiku tapi jangan seperti ini.
Ku raih handphone ku dengan malas menerima telpon Taemin “Ha…” sebelum ku selesaikan kalimatku Taemin sudah berteriak di sebrang sana menuduhku ini lah itu lah. Selingkuh lah.
“Ck” ku matikan handphone ku. Sudah bosan aku dengan tuduhan keji itu. Hei itu tidak adil. Ia tau aku sibuk bukan.
Ia selalu ingin di mengerti tapi ia tak pernah ingin di mengerti. Mengesalkan.
“Hyung” tiba-tiba sepasang tangan ramping memeluku dari belakang. Kesalku seakan hilang, ku balikan badanku dan menatap namja cantiku yang mulai cemberut.
“Wae chagi hem?” tanyaku mencium pipinya. Wajahnya bersemu merah sungguh cantik. Tapi kecantikanya tak bisa mengalahi kecantikan Taemin tenntunya.
“Hyuuuung” rengeknya bergelayut manja di tangan kekarku. Sungguh lucu. Tapi ia tidak bisa mengalahi lucunya Taemin.
“Hehehe. Wae Kevin-ah?” tanyaku membawanya ke dalam pelukanku.
“Hyung, ponselmu kenapa di matikan?” tanyanya.
“Hanya orang tidak penting yang menelpon. Kajja kita pergi tidur ini sudah terlalu larut” ajaku padanya. Kevin mengangguk mengiyakan.
Hei bukankah kau jera jika kau selalu saja di tuduh bermain di belakang lah, selingkuh lah, padahal kau tak melakukanya.
Taemin selalu saja menuduhku begitu. Mengapa tidak. Toh jika aku selingkuh atau tidak ia tetap akan menuduhku bukan?
=============
Pagi yang cerah. Aku sudah berjas rapi untuk pergi ke kantor. Saat ku nyalakan ponselku baru beberapa menit ponselku menyala menandakan ada telpon masuk. Ku pandang ponselku dengan pandangan sebal. Ini masih pagi dan Taemin sudah menelpon ku. Aku malas bertengkar. Ku buka batre ponselku dan kembali hening menyelimutiku lagi.
“Kevin, aku berangkat” salamku.
“Ne hyung. Hati-hati” ucapnya terpogoh-pogoh berlari dari dapur. Ku lihat tingkah cerobohnya itu. Tersenyum kearahnya dan memberikan kecupan singkat di puncuk kepalanya.
“Annyeong” pamitku. Kevin tersenyum manis kearahku. Tapi masih tetap lebih manis Taemin.
Hei. Bukanya aku tidak menyayangi Taemin. Kalian salah besar jika mengira aku tak menyangi namja cantik itu. Aku hanya ingin bermain-main sebentar. Toh aku dan Taemin baru tunangan. Belum MENIKAH ini. So life is fun.
.:: Minho POV end ::.
=================
Taemin masih enggan beranjak dari tempatnya duduk sekarang. Menatap langit Seoul yang cerah, yang seakan-akan mengolok-olok hati Taemin yang mendung. Ia begitu sakit.
Apa yang kau rasakan saat kau merindukan seseorang, ingin bersamanya, ingin melihat wajahnya. Tapi ia menolakmu. Lebih memilih berkelut dengan pekerjaannya sendiri. Sungguh ironis kehidupan Taemin harus mencintai namja tampan yang berperan sebagai namja yang acuh dan tak berperasaan.
Siang ini. Taemin berniat menghampiri Minho ke kantornya. Ia sungguh merindukan sosok namja tampan bermata besar itu.
Taemin berpakaian seadanya. Meraih kunci mobilnya dan melaju ke arah kantor Minho.
Saat tiba di parkiran kantor, Taemin sedikit ragu untuk masuk kedalam. Tapi ia terlalu merindukan namja tampan itu. Sebelum Taemin keluar dari mobilnya ia mencoba lagi menghubungi Minho, tapi nihil ia tak mendapatkan jawaban.
Taemin melangkahkan kakinya ke ruangan Minho. Beberapa karyawan yang memang mengenal Taemin memberi salam pada tunangan putra sulung tuan Choi itu. Taemin hanya tersenyum sebagai balasan.
Saat tiba di depan ruangan Minho, Taemin menghentikan kakinya sejenak. Ia berpikir akan memarahi Minho seperti apa. Dan saat Taemin membuka perlahan ruangan Minho. Sampai akhirnya pintu itu mebuka lebar membiarkan sosok mungil Taemin untuk masuk.
DEG
Taemin menatap tak percaya saat memandang sosok yang ia kenali dan sosok namja cantik yang tengah berciuman panas di ruangan ini. Desahan demi desahan Taemin ‘makan’ bulat-bulat sampai mereka merasa terganggu dengan kehadiran Taemin.
“Tidak sopan” marah namja cantik itu pada Taemin. Taemin hanya diam membatu menatap sosok Minho yang masih memunggunginya.
“Nugu chagi?” suara itu. Suara yang amat sangat Taemin rindukan. Dengan sekuat tenaga Taemin menahan tangisnya.
“Karyawan mu mungkin” jawab namja cantik itu menatap tajam Taemin.
“Kau ingin di peca…” teriak Minho terhenti saat melihat Taemin yang sedari tadi diam membatu di belakangnya “Ta.. Taemin” lirih Minho. Taemin tak bisa lagi menahan isaknya. Ini terlalu sakit. “Ta…Taemin..a…akk…aku bi..ssa j..ellask..an” ucap Minho terbata.
“Nugu?” tanya Kevin namja cantik tadi.
“Annyeong. Mianhe mengganggu” Taemin pun segera berlari dengan air mata mengalir deras di mata indahnya itu.
Minho. Minho hanya diam memandang sosok yang ia cintai pergi dengan berlinang air mata oleh sikapnya. Hingga akhirnya Minho tersadar dan pergi mengejar Taemin.
Tak terkejar. Minho pun membalikan mobilnya dan pergi kearah apartemen Taemin.
“Taemin buka Taemin” Minho terus mengetuk pintu apartemen Taemin dengan kasar. Tak ada jawaban dari Taemin hanya sesegukan dan tangisnya yang terdengar.
Minho prustasi. Ia sudah berdiri di depan apartemen Taemin 6 jam lebih. Dan tak ada reaksi apapun dari Taemin.
Sejujurnya Taemin ingin. Bahkan sangat ingin membukakan pintu untuk Minho. Hanya saja ia tidak bisa memandang wajah namja tampan yang sangat ia cintai itu.
Jam ke 8 Taemin menyerah. Ia membukakan pintu untuk Minho. Minho yang tadi terduduk lemas di pinggir pintu apartemen Taemin segera bangun dan menatap Taemin.
“Mianhe. Jeongmal” Minho mencoba menggenggam tangan Taemin, namun dengan cepat namja cantik itu menolaknya dengan kasar.
“Siapa itu hyung?” tanya Taemin menatap Minho tajam. Minho menunduk tak mampu menatap mata sembab milik Taemin.
“….” Tak berani menjawab Minho hanya diam, sibuk dengan pikiranya sendiri.
“Nugu hyung? Nugu?” teriak Taemin marah. Cairan bening kembali mengalir di pipi tirusnya.
“Taemin” Minho mencoba lagi mendekap tubuh Taemin namun dengan kasar Taemin menolaknya.
“Hyung jawab aku. Siapa dia hyung Siapa?” tanya Taemin di sela-sela tangisnya.
“Kevin” jawab Minho akhirnya.
“Nugu?” tanya Taemin lagi.
“Hanya teman” jawab Minho masih enggan menatap mata Taemin. Taemin memaksa mata besar itu menatap mata sembabnya. Taemin menatap Minho dalam.
“Nugu hyung?” tanya Taemin.
“Minahe Taemin aku.. aku…” Minho tergagap.
“NUGU HYUNG?” tanya Taemin berteriak.
“Ia namjachinguku. Aku berpacaran dengan nya hanya 3 bulan Taemin” Minho tak bisa berbohong saat ia menatap mata tajam Taemin.
“Hanya?” ulang Taemin. “Bagus. Sekarang kau mulai bermain di belakang hyung. Kau tidak tau betapa tersiksanya aku saat aku tak bisa bertemu denganmu. Betapa menderitanya aku saat kau tak menghubungiku sama sekali. Betapa kau begitu kejamnya saat aku hiks.. bersusah payah pergi ke kantormu.. hiks.. dan kau.. hiks.. sedang.. hiks.. ARGGGGGHH” teriak Taemin prustasi.
“Mianhe chagi. Mian” Minho membawa Taemin kedalam pelukanya. Kali ini Taemin tak meronta. Ia menangis di dada bidang Minho.
“Dan kau juga tak pernah tau. Betapa tersiksanya aku dengan kekanganmu, dengan sifatmu yang over dengan rengekanmu yang hampir membuatku gila” bisik Minho di telinga Taemin. Taemin mendorong tubuh Minho menjauh.
“Jadi maksudmu aku bebanmu begitu?” tanya Taemin marah.
“Anni. Hanya saja kau terlalu mengekangku, itu membuatku gila Taemin” kata Minho dan PLAK satu tamparan singgah di pipi Minho. Minho menatap Taemin tajam. “APA-APAAN KAU INI?” teriak Minho.
“Kau tega hyung. Betapa aku sangat mencintaimu dan bibirmu yang kotor itu membuatku sakit hyung kau tak pernah merasakan APA YANG AKU RASAKAN HYUNG” teriak Taemin.
PLAK
Satu tamparan hinggap di pipi tirus Taemin. “Mungkin memang kita tidak pernah bisa bersatu. Annyeong” Minho pergi meninggalkan Taemin yang kini terjatuh lemas di depan pintu apartemenya.
Taemin berjalan lemah saat sudah 2 hari ini ia berdiam diri di apartemenya ia tak makan atau minum. Hanya terus menangis dan menangis. Pintu di ketuk. Tanda ada seseorang di luar sana, dank au tau. Taemin masih mengharapkan itu Minho.
“Mau apa kau kesini?” tanya Taemin tajam saat menatap sosok namja yang sudah menjadi musuh bebuyutanya bertahun-tahun ini.
“Kau kenapa Taemin” tanganya terulur menyentuh pipi Taemin yang pucat. Namun Taemin segera menolaknya kasar.
“Jangan sentuh aku bodoh. Kau tau aku sangat membenci dirimu. Aku sangaaaaaaaat membenci dirimu. Dan kau dengan mudahnya datang ke apartemenku. Ada apa?” tanya Taemin dingin.
Namja tampan di depanya tampak terkekeh melihat tingkah Taemin. Tapi hati namja tampan itu sakit. Sakit saat melihat keadaan Taemin yang sudah seperti tak bernyawa ini.
“Kau tak merindukanku eoh?” namja tampan itu mencium pipi Taemin, membuat namja cantik itu merona entahlah ia merasa dadanya bergetar hebat saat melihat namja tampan itu tersenyum.
Tangis Taemin pecah lagi saat tiba-tiba ingatanya tertuju pada Minho. Bahkan namja jangkung itu belum menghubunginya lagi.
Taemin membulatkan matanya saat ia tau tubuh mungilnya kini di rengkuh kedalam pelukan namja yang sangat ia benci.
“Lepaskan aku Jonghyun” teriak Taemin. Sebenarnya ia merasa nyaman namun entahlah ia tidak ingin Jonghyun tau bahwa dadanya berdetak hebat.
==============
Minho melangkah lunglai ke arah apartemenya. Ia mabuk berat. Ia tak pernah semabuk ini. Dan yang hanya bisa membuat Minho seperti ini hanya sesosok namja kecil menyebalkan yang membuat Minho gila. Namja kecil bernama Lee Taemin.
Setelah pertengkaran hebatnya dengan Taemin. Namja tampan itu kembali ke kantornya dan mau tidak mau ia menemui Kevin yang tengah menunggunya di sana dan sedikit cekcok terjadi di sana.
Minho mengoyang-goyangkan gelas bir di tanganya. Dan dalam sekali tegukan bir itu habis. Kini yang ada di pikiranya hanya Taemin. Taemin dan Taemin. Tidak tau kah namja tampan ini sangat mencintai namja cantik bertubuh ramping dan berambut almond itu.
Dengan langkah gontai Minho berjalan kearah kamar mandi, sebentar tatapanya tertuju pada cermin yang menampakan wajah jelek dan pucat itu. Seperti sudah tidak mendapatkan kesempatan lagi. Ia melupakan waktu.
Minho berjalan lemas ke arah kamarnya. Ia membulatkan mata saat menyalakan ponsel yang sudah sejak kapan ia abaikan berharap ada telpon atau sms dari Taemin. Yah memang benar harapan Minho ada telpon masuk di hp nya. Ia mencoba menghubungi lagi Taemin tapi tidak aktif. Terus mencoba dan mencoba namun tetap saja nihil, ia tak mendapat jawaban.
Minho pun bergegas pergi menuju apartemen Taemin. Minho membuang nafas berat dan ia mulai memencet bell di apartemen itu.
TING TONG
Ceklek
Pintu terbuka dan betapa kagetnya Minho saat ia melihat sosok namja tampan yang membukakan pintu. Dan itu membuat Minho tak percaya saat mengenali namja tampan itu. Namja yang sangat ia dan Taemin benci. Dan sekarang namja itu tinggal di apartemen tunangannya.
“Nugu dino?” teriak Taemin dari arah belakang.
“Annio baby, bukan siapa-siapa” Jonghyun segera menutup pintu. Namun dengan segera Minho menahanya.
“Sedang apa kau disini?” teriak Minho.
“Sedang apa?” ulang Jonghyun “Tentu saja aku sedang menikmati masa-masa sebagai pengantin baru. Dasar bodoh” hina Jonghyun.
“Apa maksudmu?” tanya Minho lagi.
“Maksudku..” ucapan Jonghyun terpotong oleh suara Taemin.
“Nugu dino?” Taemin berjalan kearah Jonghyun dan membulatkan matanya tak percaya melihat Minho dengan keadaan berantakan di depanya “Hyung” kata Taemin “Emm.. dino-ah aku sedang memasak bisa kau jaga sebentar ne. aku ada sedikit urusan” pinta Taemin. Jonghyun sebenarnya sedikit keberatan. Namun akhirnya ia mengiyakan.
“Ne Dear” Jonghyun mencium bibir Taemin. Minho yang melihat itu mencoba menahan emosinya agar tak sampai membuat Jonghyun masuk rumah sakit.
Taemin melepaskan ciuman mereka. Menatap sinis kearah Minho “Ada apa kau kesini?” tanya Taemin dingin.
“Kenapa dia ada disini?” tanya Minho menunjuk Jonghyun yang sudah hilang di dalam apartemen.
“Siapa yang kau maksud ‘dia’?” tanya Taemin.
“Jonghyun. Siapa lagi hem?” tanya Minho sedikit membentak.
“Tentu saja ia ada di sini. Karena kami sudah menikah” kata Taemin. Minho membulatkan matanya.
“Apa maksudmu menikah? Kapan?” tanya Minho menahan emosinya.
“Ah. Ne aku lupa mengundangmu. Sekitar 3 bulan yang lalu, dan kau lihat. Jonghyun sudah memberikan ini padaku” menunjuk perut buncit Taemin.
“Kau.. aku baru saja meninggalkan apartemen mu kemarin. Mana mungkin kau..?” ucap Minho tak percaya.
“Kemarin?” tanya Taemin.
“Ne. dan aku datang kemari untuk meminta maaf padamu” Minho menggenggam tangan Taemin erat.
Taemin menggigit bibirnya dan mengibaskan tangan Minho kasar “Mianhe hyung, kau sudah terlambat. Kalau saja kau kembali delapan bulan yang lalu aku pasti…”
“Apa maksudmu delapan bulan? Kau gila” runtuk Minho.
“Annio hyung. Kau, kau terlalu larut dalam masa lalu mu. Dan kau melupakan kehidupan aslimu. Pikiranmu masih terbayang dengan kejadian delapan bulan yang lalu. Mianhe hyung kau terlambat” Taemin berjalan mundur dan menutup pintu apartemenya.
Minho masih diam membatu. Selama itukah ia terbayang sosok Taemin. Dan itu membuatnya lupa akan dunia nya sendiri. Sebesar itu kah penyesalanya. Dan semudah itukah Taemin berpaling ke lain hati di saat hatinya hancur dan remuk.
Tapi ini memang salahnya. Semua salahnya. Salah CHOI MINHO yang tidak pernah pekat terhadap perasaan namja cantik yang sangat ia cintai itu tapi, kini ia sudah tak memilikinya lagi. Ini semua gara-gara MINHO. Kesalahan terbesar MINHO.
==================
Terkadang jika kau mencintai seseorang bahkan sangaaat mencintainya. Kau mungkin aku lebih mudah membencinya.
Dan terkadang saat kau membenci seseorang bahkan sangaaaaaat membencinya. Kau mungkin akan lebih mudah mencintainya.
=THE END=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar