Minggu, 03 Juli 2011

MAGIC/2Shoot/2-2 (END)

Title :  MAGIC (pasti gk nyambung-.-)

Pairing : Lee Jinki, Lee Taemin and Other

Author : RaeJin
==========

part 1 :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=206944619349006

===========
Aku masih menatap tak percaya diriku di cermin besar di hadapanku. "HUAAAAAAAA" teriaku lagi dan berlari keluar dari kamar mandi. "TAEMIIIIIIIIIIIN" teriaku.

"Yak! Taemin jangan berisik" teriak ummaku yg kini berdiri di sampingku. Aku tak menghiraukanya, dan berlari mencari Taemin. Ck dimana namja babboya itu.

"Hah.. Hah.. Hah.." ucapku terengah karena lelah mencarinya. Umma bilang Jinki ups maksudku Taemin pergi pagi sekali. Dan kau tau? Aku sudah melupakan sekolah. Tak ada mood ku untuk pergi sekolah.

Aku kembali ke rumahku dengan keadaan teregah. Huft sungguh menyebalkan namja jelek itu. Ia bisa-bisanya pergi dengan tubuhku. Uhh apa yang harus kulakukan? Apa jangan-jangan ia mau membunuh atau mencuri dan orang-orang akan mengira itu aku. Huh sihir apa yang ia pakai?

==========

Aku sudah tak memperdulikan ummaku yang dari tadi memarahiku karena tak pergi sekolah. Aku terlalu malas.

Kini aku duduk di bangku beranda di depan halaman ku. Menanti namja menyebalkan itu. Nah akhirnya ia datang juga.

"Hyung kau-," belum selesai ia menyelesaikan perkartaanya, aku sudah menanyainya dengan berbagai pertanyaan. Dan coba lihat, ia memakai seragamku, tasku bahkan sepatuku. Huuh menyebalkan sekali Taemin ini.

"YAK DARI MANA KAU?" tanya ku membentak.

Taemin hanya terkikik dan berjalan melewatiku begitu saja. "Taemin, jangan membentak hyungmu" senyum segera terkumpul di bibirku saat tau umma membela ku. Hehehe. Eh tunggu kenapa umma malah melihatku.

"Ne, dongsaengku yang manis, jangan membentak hyungmu yang jelek ini ne weee" Taemin segera beralari meninggalkanku yang melongo kaget.

============

BRAK

Ku tutup pintu kamarku dengan kasar. Dan lihat kini Taemin tengah duduk di kasurku seakan-akan dia memang aku.

"Taemin, kau tau. Aku sudah bosan bermain seperti ini, dan ini keterlaluan Taeminie" ucapku sehalus mungkin. Ini bukan pertama kalinya Taemin bermain ilmu sihir itu pada tubuhku. Entah dapat ilmu dari mana dia itu. Oh dan kini ia memang KETERLALUAN.

"Ish hyung. Biarkan dulu" Taemin memajukan bibirnya. Tak lucu. Karena kini ia mengerucutkan bibirku -.-

"Taemin, apa maumu em?" tanyaku.

"Kau tau hyung? Aku sedang kasmaran ekekeke" Taemin terkekeh geli karena omonganya sendiri ia membulak-balikan tubuhnya di atas ranjangku.

"Yah, Lee Taemin, dongsaeng ku yang tidak manis. Kau sedang kasmaran tapi tidak seperti ini juga" teriaku prustasi.

"Masalahnya, orang yang aku sukai itu ada di sekolahmu hyung" jawab Taemin.

"Terus?" tanyaku. "Kau bisa kan menunggu sampai kau SMU nanti" kataku.

"Yeah" Taemin memutar kedua matanya "Tapi itu terlalu lama weee" ucapnya menjulurkan lidah "Ayolah hyung, biarkan aku menjadi dekat dengan dia hyung. Aku sangat menyukainya hyuung" kata Taemin memelas.

"Ah baiklah" kataku akhirnya. "TAPI KAU JANGAN MACAM-MACAM" teriaku.

"Ne. Yaksok hyung" ucap Taemin senang.

==============

Sudah tiga hari kami bertukar tubuh.
"Hyung, sekarang kau menginap di rumah Kibum ne?" kata Taemin saat kami sarapan.

"MWO? ANNI" teriaku menolak. Ia bahkan tau aku menyukai Kibum.

"Ayolah hyung aku sudah berjanji" ucap Taemin memelas.

"Apa-apaan kalian ini" ucap Umma datang dari dapur. Dan coba lihat ia hanya terkekeh geli.

===============

Taemin sibuk memilih bajunya sendiri di lemarinya sendiri.
Dengan sogokan ayam panggang aku mengiyakan pergi menginap menemani Kibum di rumahnya, karena kedua orangtuanya pergi.

"Huft" kubuang nafas berat.

"Hyung ingat jangan melakukan apapun ne. Jangan membuat Kibum curiga.. bla bla bla" ku abaikan semua petunjuk Taemin. "Hyung kau mengerti?" tanya nya.

"Ne" jawabku ngasal.

===============

Sampai di rumah Kibum ku langsung di terima dengan tangan terbuka.

"Taemin-ah kajja" ajak Kibum padaku. Uuuh dadaku bergetar hebat.

"Ah ne" jawabku.

Waktu demi waktu berlalu aku dan kibum semakin akrab, yah walau kibum menyangka aku Taemin, tapi gwenchana yg penting aku bisa lebih dekat dengan Kibum.

"Taemin-ah aku mau mandi dulu" kata Kibum. 

DEG

DEG

DEG

Aku tak menjawab.

"Kau mau mandi bersama eoh?" tanya Kibum. Uuuh ku pegang dadaku yang kembali bergetar.

"Ahahah. Kau ini" kataku.

Kibum terkikih dan masuk ke kamar mandi. Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru rumah ini. Rumah yang besar dan indah. Tapi entahlah kini pikiran ku kembali pada kata-kata Taemin.

===========

FLASH BACK

"Hyung Hyung Hyung" kata Taemin yang sudah menyelesaikan pakaianya.

"Ne wae?" tanyaku sedikit dingin. "Taemin-ah, gwenchana kau tinggal di sini sendiri?" tanyaku.

"Hehehe. Gwenchana hyung" Taemin tersenyum lucu.

"Baiklah aku berangkat dulu" pamitku.

"Hyung" lirih Taemin. Aku membalikan badan menatapnya dengan tatapan ada-apa-? "Hehehe. Anni" ia seperti mengerti arti tatapan ku. Ku balikan badan lagi. Dan GREP Taemin memeluku. Saat ingin ku balikan badan ia menahanku. "Hyungku yang sangat tampan, kini akan menjadi sangat cantik, hyungku yang kusayang akan menjadi sahabat baik kibum. Hyungku yang berpipi sangaaaaaaat mulus itu, akan menjaga umma ne?" kata-katanya.

"YAK TAEMIN BABBOYA, kita tidak selamanya bertukar tubuh eoh?" tanyaku curiga.

Ia malah terkikih "Ne hyung arra. Kau pergi sana!" usirnya mendorong tubuhku. "Hyung" panggilnya, aku berhenti melangkah "Saranghae, SArANG SARANG SARANG kekeke" kikihnya. Sebelum ku menjawab ia telah mendorongku keluar.

"Annyeong" lirihnya.

Flash back end

==============

"Taemin gwenchana?" tanya Kibum membuyarkan lamunanku. 

"Hah?" ucapku refleks. Aku melupakan nama ku sendiri. "Ah anni" ralatku. 

Drrt Drrtt Drrtt

Tiba-tiba handphone ku berbunyi. Nomor tidak di kenal.

"Yob-," sebelum ku menyapa seorang penelpon di sana sudah berteriak.

"Taemin, rumahmu kebakaran" teriaknya.

Mataku membulat. Segera ku berlari ke arah rumahku yah memang tidak terlalu jauh dari rumah Kibum, Kibum mengejarku.

===========

Aku menatap tak percaya pada rumah yang baru ku tinggalkan beberapa jam yang lalu kini sudah di lahap si jago merah.

"Ta..Taemin" lirihku, "Mana Taemin?" tanyaku histeris. Orang yang kutanya mengkerutkan halisnya. "Ahh, maksudku Jinki. Mana Jinki?" teriaku.

"Ia masih di dalam. Belum ada yang-," sebelum orang itu menyelesaikan kata-katanya aku segera berlari ke dalam rumah.

==========

Api. Ini bukan rumah ku ini bukan rumahku. "TAEMIN. TAEMIN" kupanggil-panggil namanya. 

Ku lari kearah kamarku, yang kini penuh dengan api, Tak peduli lagi aku pada nyawa ini. Taemin itu Taemin. Ia terpejam, banyak gas keluar saat ku buka kamarku.

"Ta..taemin" lirihku, merengkuh tubuh Taemin yang sudah pucat.

"Hy..hyung" hah untung ia mash hidup.

"Kajja kita keluar" ajakku

"Mimpiku tidak pernah salah kan hyung" ia memilih untuk menetap.

"Ma.. maksudmu" tanyaku.

"Mimpiku tidak pernah salah eoh? kau sering meragukan mimpiku dan bilang bahwa itu hanya bunga tidur. Ini buktinya mimpiku benar" ucapnya bangga.

"Yak Taemin, apa maksudmu?" tanyaku.

"Bilang ia hyung. Dan jangan panggil aku Taemin. Aku ini Jinki. hehehe" ia masih mencoba tersenyum meski kini keadaanya kritis.

"Ne, Taemin ne" ucapku menangis.

"Baguslah ehehe" ia pun pergi. Pergi. kucoba menggerakan badanya, menyebut namanya, namun nihil ia tak menjawabku. Hingga kini aku berdiri di lorong rumah sakit, menatap jenasah yang harusnya diriku itu dalam keadaan tak bernyawa. Umma dan beberapa kenalanku terus menangis.
Ck dasar Taemin curang.

================

TAEMIN POV

"Hah..Hah..Hah" aku terbangun dari mimpi buruku. Mimpi itu, itu terlihat nyata. Aku takut, sungguh takut. Dalam mimpiku. saat aku pergi rumahku kebakaran dan Jinki di dalamnya, terus meminta pertolongan, sampai akhirnya Jinki..
Anni.. aku tidak mau.

Aku berjalan kearah setumpuk buku-buku lama, mencari mantra agar kami bisa bertukar tubuh. Aku tidak peduli lagi.

Aku datang ke kamar Jinki, dan ia menyambutku seperti biasa. Dan saat ia tertidur ku bacakan mantra itu. Dan bingo kini aku berada di tubuh kaka yang sangat aku sayangi.

Jinki terlihat kesal saat aku pulang dari sekolahnya, ku cari-cari alasan agar aku di biarkanya memakai tubunya ini. Dan ia mengijinkanku. Lihat begitu baik bukan hyungku itu?

Hari ini hari dimana harusnya aku pergi menginap di rumah Kibum, tapi aku meminta Jinki yang pergi, oh tentu saja ia adalah aku eoh? Ku titip salam terakhirku.

Jinki tlah pergi ke rumah Kibum. Kini tinggal aku sendiri di rumah ini. Mungkin aku bisa melihat masa depan, tapi aku tak bisa merubahnya, biarkan aku yang menggantikanya. Aku rela.

Aku duduk di pinggiran kasur Jinki. Kamarku atau tepatnya kamar Jinki berada di lantai atas. Begitu sepi sampai aku mendengar seseorang berteriak "KEBAKARAAAAAN. KEBAKARAAAAAAN" 

Bingo, kini lah ajalku. Mungkin jika kalian berfikir bahwa aku bisa saja pergi keluar saat sebelum kebakaran terjadi, karena memang aku mengetahuinya. Kalian salah. Aku mungkin bisa saja pergi, tapi itu merubah takdir, dan aku tau, itulah takdir kakaku. Aku tidak merubah takdir, hanya saja menggantikan takdirku dan kakaku yah secara tidak langsung.

"Hah...Hah...Hah" aku mulai kehabisan oksigen dan pingsan beberapa lama sampai aku mendengar kakaku memanggil namaku. Orang terakhir yang mengucapkan namaku padaku. Karena mungkin suatu hari nanti namaku untuknya.

"Taemin. Taemin" teriaknya panik. Aku tak menanggapinya. Tapi aku memintanya untuk mengatakan bahwa aku benar. Hei ia hampir setiap kali mengatai ku gila karena memang mimpiku yang menjadi kenyataan, hanya saja ia tak mengalaminya sendiri, sehingga ia menganggapku gila.

Tapi kini aku mendapatkanya. Annyeong Taemin-ah ehehe

=THE END=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar